KHOIRUNNAS ANFA'UHUM LINNAS
Headlines News :

Text-Ads


ShoutMix chat widget

Latest Post

Written By joyojuwoto on Rabu, 22 Desember 2010 | 07.14

Written By joyojuwoto on Rabu, 15 Desember 2010 | 19.29

How do I use a custom domain name on my blog?

Written By joyojuwoto on Rabu, 08 Desember 2010 | 21.30

Tidak akan baik akhir umat ini, kecuali dengan sesuatu yang membuat baik pada awalnya

(Imam Malik )

Ketika Dakwah Menjadi Pilihan Hidup

Written By joyojuwoto on Minggu, 25 Juli 2010 | 07.29

Ketika Dakwah Menjadi Pilihan Hidup

Jika dirimu telah menapakkan kaki di jalan dakwah, semoga saja itu adalah pilihan sadar, tidak ada paksaan dari siapapun, murni karena keinginan sendiri. Dan tidak mengharap sesuatu dari dakwah kecuali ridha Allah SWT. Ketika kita telah mengikrarkan untuk bergabung dengan kafilah dakwah, maka sebuah konsekwensi dari pernyataan harus siap kita hadapi. Entah dakwah itu akan mulus-mulus saja, ataukah dakwah akan membuat kita terseok karena hantaman dari orang yang tidak ridho dengan dakwah begitu besar. Mental seorang da’i tidak boleh lembek dalam menghadapi tantangan, mental harus kuat agar bisa tetap bertahan melalui semua wejengan yang menyambut di medan juang.
Ah… sudah menjadi sunnatullah bahwa semua pengemban dakwah akan melewati fase sulit dalam hidupnya. Manusia utama saja menghadapi hal yang demikian, ketika darahnya harus mengucur demi dakwah di Thaif. Namun manusia utama itu tiada mengeluh dan tidak menaruh dendam. Pun disebutkan dalam kisah-kisah yang sudah masyhur, seorang Hanzalah yang rela meninggalakn kasur empuknya di malam pengantinnya demi untuk menyambut panggilan jihad, sebuah pengorbanan yang begitu hebat. Pun telah dikisahkan seorang budak hitam yang tetap kokoh berpegang teguh pada sendi aqidah, walaupun disiksa oleh majikannya namun kemanisan iman dan islam telah menyatu dalam setiap aliran darahnya hingga membuat dia tidak bergeming ketika beratnya batu besar, panasnya padang pasir, dan perihnya cambukan menghantam dirinya. Wahai saudaraku, tidakkah besar pengorbanan mereka? Air mata mereka meleleh membasahi pipi, tapi kalimat Allah tidak pernah lekang dari bibir dan hati mereka.
Engkau pastinya tahu sang syahidah pertama dalam sejarah penyebaran islam, bagaimana Sumayyah menjemput syahidnya dengan perlakuan yang sangat sadis, roh nya melayang meninggalkan jasad yang terbuyur kaku. Dia adalah muslimah tangguh yang pernah ada, tidakkah kau iri saudaraku? Sumayyah telah mengorbankan jiwanya untuk dien ini, lalu apa yang telah kita korbankan? Adakah hanya keluh kesah yang tersirat dalam tatapan sinis dan sumpah serapah yang telah mewarnai perjalanan kita? Kita terlalu lemah. Terlalu cengeng dalam menghadapi semua tantangan dakwah.
Dakwah bukan semua permainan, dakwah bukan sebuah label untuk menjadi orang hebat, dakwah adalah ruh juang, dakwah adalah sebuah ruh pembebasan, pencerahan. Dakwah adalah sebuah pilihan hidup, sehingga diri sudah siap dengan konsekwensi dari pilihan hidup itu. Diri harus siap dengan duri-duri yang telah menunggu di perjalanan. Hingga diri telah siap berkorban demi dakwah ini.
Tidakkah engkau rela menitikkan air mata, berpeluh dalam penat, atau terhempas karena hantaman yang sangat keras, tidakkah engkau rela semua itu engkau lakoni untuk sebuah senyum cerah di wajah ummat? Senyum bahagia karena merasakan keindahan islam, dan kemanisan iman. Sebagaimana yang telah dirasakan oleh manusia utama, seorang hanzalah, seorang Bilal, sayyidah Sumayyah, dan ribuan pejuang islam lainnya demi mengukir senyum di wajah kalian?
Dan pun jika kita tidak siap bersama dakwah maka itu juga adalah pilihan. Tapi tanpamu, tanpaku, tanpa siapapun dakwah ini akan tetap jalan di muka bumi ini. Bukan dakwah yang butuh kepada kita, tapi kitalah yang butuh kepada dakwah.


Read more...
Diposkan oleh Munawir Syam

Perbedaan Harakah Bukan Simbol Perpecahan

Perbedaan Harakah Bukan Simbol Perpecahan


Kepada mujahid benteng kebenaran
Selalu rindu akan lahir kejayaan
Kepada pewaris tahta yang gemilang
Menapak tegak menyongsong masa depan

Indonesia kini menjadi lahan subur bagi pergerakan Islam. Sehingga geliat dakwah dan keislaman terasa membahana di bumi pertiwi, dimana-mana selalu saja ada yang menyeru kepada kebenaran islam, seolah tidak ada ruang yang kosong. Alhamdulillah, geliat dakwah itu berasal dari aktivis pergerakan Islam yang aktif berdakwah, seolah tidak pernah letih dalam mengemban amanah yang memberatkan punggungnya, aktivis yang selalu berpeluh demi kerja-kerja besar, aktivis pergerakan yang selalu menghiasi bibirnya dengan kata hikmah. Subhanallah, semoga Allah membalas kalian dengan syurganya. Peluhmu, letihmu, waktumu yang tersita, perasaanmu, dan semua yang telah kalian korbankan demi pencerahan kepada ummat.

Saya melihat kalian dari luar fikrah dan harakah yang kuikuti, sehingga aku menuliskan semua ini bukan sebagai anggota dari suatu fikrah, melainkan seorang yang sedang menatap semua harakah dengan senyum menawan, menatap semua harakah sebagai singa Allah yang siap bertempur di medan laga, mempergunakan keahlian dan kemampuan mereka. Demi Allah, kutuliskan ini demi sebuah persatuan, bukan untuk mengkotak-kotakkan, apalagi menjelek-jelekkan pihak yang tidak sefikrah dengan saya. Saya menatap semua harakah sebagai pelangi yang begitu indah. Semua orang menyukainya, karena keindahan yang menyenangkan.

Saya pikir semua aktivis harakah islam paham dan hapal, sebuah surat cinta dari Allah yang mengatakan bahwa Allah mencintai orang yang berjuang dijalannya dengan shaff yang rapi. Ayyuhal asdiqaaiy! Renungkan ayat ini, karena tanpa shaf yang rapi maka kejayaan itu mustahil akan tercapai. Dan shaf yang dimaksud disini bukan shaf dalam satu harakah saja, namun shaf seluruh ummat Islam. Mustahil kejayaan itu akan tercapai jikalau kita sendiri bercerai berai. Karena shaf adalah kekuatan dan shaf adalah ruh keimanan.

Namun izinkan saya jujur dan sedikit mengeluh, senyum yang tadinya menawan karena melihat harakah islam yang begitu aktif dalam menjunjung panji-panji Islam kini harus harus sedikit memudar, membentuk senyum yang menyakitkan. Bagaimana tidak, seolah perbedaan harakah diantara kita manjadi hijab yang rentan dengan konflik. Konflik itu biasanya tergambar dari sikap dan tanggapan kita terhadap saudara dilintas harakah. Bukankah kita hapal diluar kepala, ayat Allah yang menegaskan bahwa semua orang beriman itu bersaudara. Apakah kita lupa dengan ayat sering kita baca berulang-ulang itu? Ayat yang semakin mengokohkan persaudaraan antara kaum muhajirin dan kaum anshar, hingga tidak ada lagi kata perbedaan status diantara mereka. Lalu ada apa dengan kita?

Subhanallah, kudapati dalam diri kalian wahai para aktivis pergerakan Islam, tanpa membedakan harakah kalian. Ruh semangat juang yang begitu tinggi, kita mempunyai cita yang sama. Kembalinya sebuah khilafah. Cita itu begitu agung dan telah menyatu dengan aliran darah dan desahan nafas kita. Sebuah impian yang sebentar lagi akan terwujud saudaraku, jangan hancurkan impian itu! Yah mungkin kita menatap impian yang masih dipuncak gunung itu di tempat yang berbeda, ada yang menatap impian itu dari sebelah kanan, kiri, depan, belakang. Dan mungkin kita menatap impian itu dalam keadaan yang berbeda pula, ada yang sedikit posisi miring, ada yang sementara duduk, berdiri, berjalan, berlari. Dan mungkin karena keadaan dan tempat kita dalam menatap impian indah itu hingga menjadikan kita berbeda, namun bukan berarti kita tidak bersatu kan saudaraku? Yang penting tidak ada diantara kita yang menatap impian itu dengan keadaan berpangku tangan.

Ada pepatah yang menyatakan, banyak jalan menuju roma. Mungkin itulah yang terjadi dengan kita, semua harakah mempunyai jalan tersendiri untuk mencapai tujuan. Yang jelasnya kompas yang digunakan sebagai penunjuk jalan adalah Al-qur’an dan sunnah. Sehingga tidak ada yang melenceng dan tersesat, saya yakin semua mempunyai pegangan yang kuat. Dan inilah yang membuat kita sering larut dalam konflik antar aktivis, karena kita masih saja memperdebatkan apa yang memang tidak bisa kita persatukan, karena memang dasar dalam memandang suatu masalah yang berbeda.

Harakah Islam saya gambarkan sebagai pelangi yang indah, semua mata akan betah memandangnya seraya bibirnya mengucap tasbih akan keindahan ciptaan Ilahi. Namun bagaimana jika pelangi itu menjadi tidak beraturan? Apakah masih akan indah kelihatan? Ataukah itu menjadi tanda kiamat? Ada hadits yang mengatakan bahwa perbedaan ummatku adalah berkah, walaupun disebutkan dalam beberapa buku bahwa hadits itu dhaif. Tapi setidaknya kita bisa mengambil pelajaran, karena isi dari kalimat tersebut tidak salah, bahkan sesuai dengan kondisi kita saat ini. Anggap perbedaan ini suatu berkah sehingga konflik bisa kita hilangkan. Lihatlah dalam satu kebun, pasti akan menambah keindahan jika ditumbuhi beraneka ragam bunga. Ada berwarna kuning, putih, merah, ungu. Dan datanglah lebah untuk menghisap sari bunga yang beraneka ragam itu, lebah tidak membedakan antara bunga kuning dan merah, semuanya diisap. Dan hasil dari sari bunga yang berbeda itu akan menjadi madu, madu yang begitu manis. Bukankah begitu saudaraku?

Sebenarnya jika kita ingin saling mengerti dan memahami, maka semuanya akan menjadi indah. Setiap harakah mempunyai keunikan tersendiri, khususnya kita di Indonesia. HTI lebih konsentrasi dalam pembentukan khilafah dengan sosialisai bahwa hanya islam lah solusi yang tepat bagi semua masalah, dan itu benar. Aktivis tarbiyah, PKS dan juga partai islam lainnya lebih memilih untuk ikut dalam pemerintah untuk melakukan perubahan bagi pemerintahan bangsa kita yang amburadul, dan itu benar. Jama’ah tabliq (JT) dengan kesadaran penuh mereka turun untuk berdakwah dan mengajak orang secara langsung untuk beribadah, JT konsentrasi dalam masalah ibadah, dan itu benar. Salafi yang lebih konsentrasi dalam pemurnian aqidah dan pemberantasan bid’ah, dan itu juga benar. Lalu apa yang salah dari kita? Mari kita gabungkan kerja-kerja kita, PKS dan partai-partai islam yang siap mendukung program yang baik dan berpihak pada kemaslahatan ummat. HTI yang melakukan penyadaran bahwa hanya Islamlah solusi, JT yang mengajak untuk ibadah, dan salafi untuk pemurnian aqidah. jika kerja-kerja ini kita satukan maka impian itu akan semakin cepat kita raih. Apalagi ditambah gerakan islam yang lain, yang semuanya ingin khilafah terwujud.

Saudaraku, lihatlah impian yang dipuncak gunung sana sedang melambaikan tangannya kepada kita, dia merindukan kita untuk segera sampai kesana, dan kita pun dengan segala upaya menghampirinya, sekarang kita sementara berlari ke arahnya, jangan sampai karena perbedaan latar belakang membuat kita saling menjatuhkan di tengah jalan, jika kita saling menjatuhkan maka siapakah yang akan sampai kesana? Impian itu semakin melambaikan tangannya, ayo saudaraku jangan sampai impian itu dihancurkan oleh ego kita semua. Saatnya kita saling memapah, menopang dan saling menguatkan. Jika ada saudaramu yang terjatuh mari kita papah dia, bukan malah menyumpahi dengan sumpah serapah. Ayyuha! Masih banyak musuh islam yang harus kita hadapi, musuh kita bukan lintas harakah, tapi musuh kita adalah mereka yang tidak ridho dengan Islam. Ayyuha!

Saudaraku, ada penyakit yang menjangkiti hati kita sebagai aktivis harakah islam. Ketika kita menganggap harakah kita paling sempurna dan harakah yang lain buruk, bahkan membid’ahkan dan menyesatkan harakah lain. Padahal tidak ada satupun harakah yang sempurna, semua ada celahnya dan kekurangannya. Namanya juga hanya buatan manusia, jadi tidak ada yang sempurna. Namun celah dan kekurangan itu bisa ditutupi dengan bersatunya semua harakah islam, kita saling melengkapi dan menutup kekurangan. Bukan malah saling membongkar kekurangan, tidak cukupkah Rasulullah menjadi panutan kita? Pernahkah beliau mengajari kita untuk menutupi aib dan kekurangan saudara sendiri? Rasulullah bersabda barang siapa yang menjaga aib saudaranya maka Allah akan menjaga aibnya di hari kiamat.

Mohon maaf jika tulisan ini terkesan menggurui, saya hanya menulis apa yang saya rasakan dalam gerakan dakwah islam. Saudaraku, aku mencintaimu karena Allah, seluruh aliran di darah ini dipenuhi kerinduan akan hadirnya kedamaian di bumi titipan Allah ini. Saudaraku, aku merindukan saat dihisab nanti amalan baik kita bercerita di hadapan Allah, tentang peluhmu…. Saudaraku, kutulis ini dengan perasaan yang mengharu biru dan kukirimkan do’a untuk persatuan kita…. Semoga kalian semua diberkahi oleh Allah dan menguatkan pancang kakimu di harakah manapun kamu berpijak.

Munawir Syam, syaamilah@yahoo.com
Read more...

Islam Yang Syumul

Oleh : Ust. Anis Matta - Suara Hidayatullah

Jaminan keabadian syariat Islam ternyata harus dibayar dengan harga yang tidak semurah yang kita bayangkan. Jaminan keabadian ini harus dipertaruhkan sepanjang zaman; melawan berbagai tantangan dan fitnah yang tidak pernah selesai.

Pada 13 tahun pertama masa da'wah di Makkah, setidaknya ada empat tantangan dan fitnah yang dihadapi Rasulullah saw. Pertama, syubhat yang disebarkan para intelektual musyrikin Quraisy: sebagiannya terkait dengan pribadi sang Rasul pembawa risalah yang dituduh gila, atau penyair dan lainnya, sebagiannya lagi terkait dengan risalah itu sendiri, hingga suatu saat Allah menantang mereka untuk membuat Al-Qur'an yang lain.

Kedua, tawaran kompromi politik. Sebagiannya berupa posisi kepemimpinan bagi Rasulullah Saw yang harus dibayar dengan menghentikan da'wah, sebagiannya berupa kompromi dengan cara kaum musyrikin menyembah Allah setahun dan kaum Muslimin menyembah tuhan-tuhan kaum musyrikin setahun.

Ketiga, teror mental dan fisik, baik kepada Rasulullah saw secara pribadi maupun kepada sahabat-sahabat beliau yang berasal dari kabilah-kabilah yang lemah.

Keempat, embargo ekonomi yang berlangsung selama tiga tahun, dari tahun ketujuh hingga tahun kesepuluh kenabian. Begitu beratnya dampak embargo ini hingga banyak sahabat Rasulullah saw yang terpaksa memakan daun-daun pohon.

Pengulangan sejarah

Fitnah terhadap Islam dan syariatnya -sepanjang sejarah Islam- tampaknya mengalami pengulangan-pengulangan dengan struktur yang sama; pada mulanya ada syubhat yang bertujuan menggoyang kepercayaan kaum Muslimin, lalu ada tawaran kompromi politik yang bertujuan mengalihkan fokus penerapan syariat.

Jika kedua cara yang relatif demokratis ini gagal, maka fitnah itu dikembangkan dengan menggunakan bahasa kekerasan; teror mental dan fisik, yang dilanjutkan dengan menghabisi sumber daya perekonomian kaum Muslimin.

Lihatlah, misalnya, bagaimana berbagai macam syubhat tentang Islam bertebaran dalam dunia pemikiran Islam moderen, sejak zaman penjajahan hingga saat ini. Gerakan orientalisme telah bekerja keras menyebarkan syubhat-syubhat itu, sama kerasnya dengan kerja para imperialis mendidik para pemikir Muslim yang menelan mentah-mentah syubhat-syubhat tersebut.

Ambillah contoh gagasan tentang Islam ritual. Para orientalis menyebarkan gagasan ini untuk menutupi fakta tentang Islam sebagai sebuah sistem kehidupan. Pada suatu masa di awal abad ke-20, beberapa orang intelektual Mesir dikirim ke Perancis untuk belajar Islam. Salah seorang di antara mereka, Dr Ali Abdurraziq, kemudian kembali dengan membawa gagasan tentang "Islam tanpa politik".

Snouck Hourgronje datang ke Indonesia meneguhkan gagasan tersebut dan berhasil memperpanjang masa penjajahan Belanda di negeri ini. Sebabnya? Kaum Muslimin di sini tidak menganggap politik sebagai bagian dari Islam. Pada tahun 70-an awal, gagasan yang sama dengan latar belakang sosial politik yang berbeda muncul ke permukaan pemikiran Islam: "Islam Yes, Partai Islam No". Tokohnya kita semua sudah tahu. Sekarang, kalangan Islam Liberal membawa gagasan yang sama: jangan bawa syariat Islam dalam kehidupan bernegara. Tokohnya juga kita kenal.

Tapi syubhat-syubhat ini sudah relatif selesai, dan tidak lagi efektif mencegah laju kebangkitan Islam. Para penggagas kebangkitan Islam sejak Afghani, Abduh, Rasyid Ridha, Hasan Al-Banna, Sayyid Quthub, hingga Iqbal, Al-Maududi, Al-Nadawi dan Natsir di luar jazirah Arab, telah berhasil membangun landasan pemikiran Islam yang kokoh. Sejak tahun 70-an hingga saat ini laju kebangkitan Islam telah berkembang dari sekedar gerakan pemikiran menjadi gerakan sosial politik yang merata di seluruh di dunia Islam.

Lihatlah apa yang terjadi di Aljazair, Yaman, Iran, Turki, Indonesia, Pakistan, Sudan dan lainnya. Kekerasan telah menjadi bahasa umum-yang digunakan berbagai rezim boneka -di mana Islam direpresentasikan dalam panggung politik. Di Aljazair misalnya, FIS yang pernah memenangkan pemilu di awal 90-an, sekarang tinggal sebuah nama yang 'pernah ada' dalam sejarah politik negeri itu.

Tapi itu bahkan tidak hanya dilakukan oleh rezim penguasa lokal. Kekuatan imperialis global di bawah dominasi Barat, khususnya Amerika Serikat, terlibat sangat jauh mendukung rezim penguasa lokal. Begitu sebuah harakah Islam berhasil menegara dan berkuasa, rezim baru itu akan segera diisolasi.
Lihatlah Sudan. Begitu kudeta putih yang dipimpin Umar Al-Basyir berhasil menguasai Sudan tahun 1987, dan mulai mencanangkan penerapan syariat Islam, negeri Muslim di perbatasan Afrika-Arab itu segera masuk dalam lingkaran setan embargo ekonomi hingga saat ini.

Banjir tak lagi terbendung

Tapi seperti banjir, gelombang kembali kepada Islam, baik di jalur sosial budaya maupun di jalur ekonomi politik, tak lagi dapat dibendung. Seperti syubhat-syubhat pemikiran para orientalis bersama para muridnya di negeri-negeri Islam yang tidak lagi efektif sejak dekade 70-an, maka cara-cara kekerasan dalam bentuk teror mental dan fisik atau embargo ekonomi, juga tidak lagi efektif sejak dekade 90-an. Runtuhnya Uni Soviet awal dekade 90-an bukan hanya mengangkat AS ke puncak dominasi dunia, tapi juga menyisakan berkah bagi dunia Islam; yakni runtuhnya tembok tirani yang memberi jalan bagi proses demokratisasi di negeri-negeri Muslim yang didominasi para tiran.

Lebih dari itu, peta aliansi strategis antar berbagai kekuatan global berubah pada basisnya; dari orientasi ideologi ke orientasi kepentingan ekonomi. Karena potensi-potensi yang dimilikinya, baik potensi sumber daya alam, maupun potensi pasarnya, maka perkembangan ini akan memberikan posisi tawar yang baik bagi dunia Islam.

Fakta ini melahirkan fakta lain; dunia kita makin sulit dikontrol oleh hanya satu tangan. Kita belajar satu hal dari rentetan peristiwa pemboman WTC dan Pentagon 11 September 2001, hingga demonstrasi 10 juta orang di seluruh dunia 14 Februari 2003 lalu menentang rencana serangan AS-Inggris ke Irak; bahwa Amerika tak lagi seberwibawa dulu, bahwa Amerika bukan lagi mitos yang menakutkan, bahwa Amerika bukan lagi simbol peradaban tapi simbol kebiadaban.

Retaknya koalisi Barat, runtuhnya pamor Amerika, dan rusaknya citra peradaban mereka menjadi kebiadaban, akan mempercepat laju trend "kembali ke Islam"; karena di sini kita -dan dunia- menemukan identitas yang solid untuk melakukan perlawanan.

Faktor-faktor eksternal ini, khususnya bila Amerika benar-benar menyerang Irak, akan mendorong peningkatan solidaritas dunia Islam bersama bagian dunia lain yang anti-Amerika, memperlihatkan secara kasat mata kebiadaban Amerika serta meningkatkan semangat anti-Amerika di seluruh dunia.

Secara internal, kondisi-kondisi global ini akan mempercepat proses pematangan gerakan-gerakan Islam, dan mengantar mereka ke jalur cepat menjadi negara. Kenapa? Karena rezim-rezim pro Amerika di dunia Islam akan kehilangan legitimasi di mata rakyat, dan pada waktu yang sama, menjadikan kekuatan Islam sebagai alternatif perlawanan. Untuk tahapan ini, kenyataan ini menguntungkan gerakan Islam.

Jalan masuk menuju kemenangan besar Islam telah dimulai dari sini; dari sebuah dunia yang semakin tidak terkontrol, dari runtuhnya kepemimpinan Amerika atas dunia, dari kekacauan global dunia tanpa kutub, dari keserakahan tak terbatas yang melahirkan pertarungan atas sumber-sumber daya ekonomi. Lebih dari itu semua; ada janji Allah untuk mengabadikan dan memenangkan agama ini.

Jangan hiraukan agenda kecil

Dalam kerangka itulah kaum Muslimin, khususnya para pemimpin dan pemikirnya, harus memfokuskan perhatiannya pada agenda-agenda besarnya; membangun aliansi besar ummat Islam, membangun pondasi sosial-politik bagi kehidupan kenegaraan yang kokoh, peningkatan kemampuan mobilisasi massa, pengembangan kapasitas pengendalian politik melalui berbagai jalur parlementer-ekstraparlementer, jalur lambat pemilu atau jalur cepat people power, pematangan agenda-agenda aksi di lapangan dan lainnya.

Kita harus terbiasa bekerja dalam agenda-agenda besar itu, dan terbiasa juga mengabaikan agenda-agenda kecil seperti menjawab ocehan kalangan Islam Liberal, membela diri dari tuduhan sebagai teroris, dan agenda-agenda sejenis ini yang kontra-produktif
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. KHOIRUNNAS ANFA'UHUM LINNAS - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger