KHOIRUNNAS ANFA'UHUM LINNAS
Headlines News :

Text-Ads


ShoutMix chat widget

Latest Post

Kaum Sarungan

Written By joyojuwoto on Kamis, 12 September 2024 | 17.31

Kaum Sarungan
Oleh: Joyo Juwoto

Santri atau identik dengan sebutan kaum sarungan ini sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari masyarakat semenjak dulu. Kaum sarungan ini membaur di tengah masyarakat dan mengambil peran yang cukup signifikan dalam peradaban bangsa dan negara. 

Hampir di setiap wilayah, hampir pasti dijumpai makam, petilasan, tempat-tempat yang dijadikan punden masyarakat, dan itu merujuk pada seorang tokoh Kiyai atau orang yang dituakan yang babad desa membangun sebuah peradaban. Ini adalah bukti bahwa kaum sarungan tidak terpisahkan dari masyarakat.

Kaum sarungan ini memiliki semboyan Urip iku urup, urip iku urap. Menurut istilah sekarang, hidup itu harus menyala bosku, hidup itu harus berbaur dengan masyarakat dan tidak terpisahkan dengan masyarakat. 

Secara kesantrian, merujuk pada kajian-kajian turots al Islamiyah yang biasa dideras santri, merujuk pada sebuah hadits Nabi bahwa sebaik-naik manusia adalah yang bermanfaat untuk sesama, hal ini memotivasi kaum sarungan untuk selalu berbuat yang bermanfaat untuk umat. 

Diakui atau tidak, Kiyai, santri selalu mengedepankan bakti untuk negeri, berdarma untuk bangsa, dengan dedikasi yang tinggi dan keikhlasan yang luar biasa, bahkan sebelum negara ini secara formal terbentuk.

Santri adalah sebuah identitas yang lengkap, oleh karena itu santri harus serba bisa. Santri ketika terjun di masyarakat bisa menjadi petani, bisa menjadi tukang kayu, bisa menjadi birokrat, pengusaha, politisi, dan menjadi apapun. Namun yang lebih penting dari itu santri haruslah menjadi pengayom masyarakat. 

Oleh karena itu jika santri terjun ke masyarakat jangan sampai jiwa santrinya lepas, karena dari jiwa santri inilah yang akan memancarkan nilai-nilai kebaikan dan keberkahan dalam kehidupan. Ya, kebaikan, keberkahan, dan ridho Tuhan adalah hal yang sangat diperjuangkan oleh seorang yang berjiwa santri.

Jiwa santri akan selalu mengacu pada nilai keikhlasan lillahi ta'ala dalam segala amal perbuatannya, yang dicari santri adalah keberkahan dunia akhirat karena pada dasarnya kaum sarungan ini kakinya menginjak bumi, tapi hatinya melangit di ketinggian sidratil muntaha.


Bangilan, 13 September 2024

Mbah Yai Sarbini al-Lengkongy

Written By joyojuwoto on Jumat, 02 Agustus 2024 | 16.28


Mbah Yai Sarbini al-Lengkongy
Oleh: Joyo Juwoto

Mbah Yai Sarbini tedak turun Sunan Giri
Tebuireng tempat nyantri
Pada Hadratus Syekh Hasyim Asy'ari Sang Guru sejati

Mbah Sarbini
Kiai sederhana dekat dengan jelata
Penyuka rokok dan kopi
Sebatang rokok, secangkir kopi
Sehari terbagi tiga kali
Pagi siang dan sore hari

Mbah Sarbini istiqomah dalam mengaji
Iqna' Kitab yang dikaji 
Jama'ah lima waktu tiada henti

Mbah Sarbini penguasa ilmu falak yang mumpuni
Pembaca rahasia lauhil mahfud
Daun yang  jatuh pun bisa terprediksi pasti

Mbah Sarbini Kiai wali pewaris ilmu para Nabi 


Bangilan, 4/6/24

Ziarah Ke Pusara RA. Kartini di Rembang

Written By joyojuwoto on Kamis, 16 Februari 2023 | 22.08

Ziarah Ke Pusara RA. Kartini di Rembang
Oleh: Joyo Juwoto

Usai sowan dari Gus Mus di Leteh Rembang, saya Mas Rosyid dan Mas Nahrus ada keinginan untuk ziarah ke pusara tokoh emansipasi kaum perempuan, RA. Kartini yang masyhur dengan karya tulisnya yang berjudul "Habis gelap terbitlah terang".

Awalnya kami mengira makam beliau ada di pusat kota Rembang atau dekat dengan pantai Kartini, namun kami salah, makam RA. Kartini ternyata ada di desa Bulu Kec. Bulu Kab. Rembang, sekitar 17 KM ke arah selatan dari kota Rembang di jalur jalan raya Rembang-Blora.

Sepanjang perjalanan menuju arah Blora, saya membayangkan apa yang di tulis oleh Pram, dalam gadis Gadis Pantai. Sebuah roman yang menggambarkan bagaimana nasib seorang gadis yang dipaksa menikah dengan laki-laki yang sama sekali tidak dikenalnya, dan hanya diwakili oleh sebilah keris yang nantinya menghantarkan Sang Gadis ke dalam tembok belenggu adat yang merantai kemerdekaannya. Dan hal seperti ini sangatlah lumrah terjadi pada kala itu, semua memakluminya.

Seakan sudah menjadi suratan nasib dan garis takdir yang menganggap kaum perempuan sebagai konco wingkingnya kaum laki-laki. Budaya feodal dan patriarki inilah yang dijadikan lawan bagi kemerdekaan dan kesetaraan kaum perempuan yang diperjuangkan oleh RA. Kartini.

Dalam teori startifikasi sosial, masyarakat kala itu terbagi menjadi kaum priyayi dan masyarakat jelata. Kaum priyayi dianggap memiliki derajat yang lebih luhur dibandingkan dengan rakyat, sehingga mereka seakan dianggap sah menguasai hal ihwal rakyat. 

Di sampul belakang buku roman Gadis Pantai ada sebuah kalimat yang sangat menusuk hati. 

"Mengerikan bapak, mengerikan kehidupan priyayi ini...Ah tidak, aku tak suka pada priyayi. Gedung-gedungnya yang berdinding batu itu neraka. Neraka. Neraka tanpa perasaan".

Lihatlah bagaimana seorang priyayi Jawa saat itu bisa dengan seenaknya mengambil seorang gadis untuk dijadikan gundiknya, menjadi Mas Nganten yang hanya sekedar untuk melayani "kebutuhan" seks priyayi tersebut. Benar-benar mengerikan.

Kita patut bersyukur, kaum perempuan Nusantara patut berterima kasih dan nyekar ke pusara RA. Kartini, kunjungi makamnya, usap nisannya, bawakan bunga, bacakan doa, dan kirimkan hadiah Fatihah buat beliau. 

Kartini adalah salah satu tokoh yang punya kepedulian terhadap nasib bangsanya, nasib kaumnya yang ditindas atas nama  konsep otak-atik kata yang menempatkan wanita berasal dari kata wani ditata. Tapi, wanita jangan hanya wani ditata saja, wanita hari ini juga harus siap wani nata, demi sebuah kata perjuangan emansipasi kaum perempuan. 


Bangilan, 17 Februari 2023

Bahaya Faham Pluralisme di Era Modern 2

Written By joyojuwoto on Senin, 31 Januari 2011 | 16.03

Dalam kitab “Vonis Kafir”, Ustadz Mas’ud Izzul Mujahid Lc menyebut adanya sembilan Pembatal Keimanan yang disepakati oleh para ulama. Ketika menerangkan Pembatal Keimanan nomor lima yang berjudul “Tidak Mengkafirkan Orang-orang Musyrik, atau Ragu Terhadap Kekafiran Mereka, atau Membenarkan Mazhab Mereka,” beliau menulis sebagai berikut:

Siapa saja yang meragukan kekafiran orang-orang kafir berarti ia telah meragukan ayat-ayat Al-Qur’an, sedangkan orang yang meragukan kebenaran Al-Qur’an dihukumi kafir.

Bahaya Faham Pluralisme di Era Modern 1

Kondisi dunia dewasa ini sangat sesuai dengan gambaran Nabi Muhammad صلى الله عليه و سلم lima belas abad yang lalu:
Rasulullah صلى الله عليه و سلم bersabda: "Sungguh, kalian benar-benar akan mengikuti tradisi/kebiasaan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta, sehingga sekiranya mereka masuk ke dalam lubang biawak-pun kalian pasti akan mengikuti mereka." Kami bertanya; "Wahai Rasulullah, apakah mereka itu kaum Yahudi dan Nasrani?" Beliau menjawab: "Siapa lagi kalau bukan mereka." (HR. Muslim, No. 4822)

welcome

Written By joyojuwoto on Rabu, 29 Desember 2010 | 06.57

selamat datang di web www.joyojuwoto.co.cc

Written By joyojuwoto on Selasa, 28 Desember 2010 | 12.29

Written By joyojuwoto on Rabu, 22 Desember 2010 | 07.14

Written By joyojuwoto on Rabu, 15 Desember 2010 | 19.29

How do I use a custom domain name on my blog?

Written By joyojuwoto on Rabu, 08 Desember 2010 | 21.30

Tidak akan baik akhir umat ini, kecuali dengan sesuatu yang membuat baik pada awalnya

(Imam Malik )

Ketika Dakwah Menjadi Pilihan Hidup

Written By joyojuwoto on Minggu, 25 Juli 2010 | 07.29

Ketika Dakwah Menjadi Pilihan Hidup

Jika dirimu telah menapakkan kaki di jalan dakwah, semoga saja itu adalah pilihan sadar, tidak ada paksaan dari siapapun, murni karena keinginan sendiri. Dan tidak mengharap sesuatu dari dakwah kecuali ridha Allah SWT. Ketika kita telah mengikrarkan untuk bergabung dengan kafilah dakwah, maka sebuah konsekwensi dari pernyataan harus siap kita hadapi. Entah dakwah itu akan mulus-mulus saja, ataukah dakwah akan membuat kita terseok karena hantaman dari orang yang tidak ridho dengan dakwah begitu besar. Mental seorang da’i tidak boleh lembek dalam menghadapi tantangan, mental harus kuat agar bisa tetap bertahan melalui semua wejengan yang menyambut di medan juang.
Ah… sudah menjadi sunnatullah bahwa semua pengemban dakwah akan melewati fase sulit dalam hidupnya. Manusia utama saja menghadapi hal yang demikian, ketika darahnya harus mengucur demi dakwah di Thaif. Namun manusia utama itu tiada mengeluh dan tidak menaruh dendam. Pun disebutkan dalam kisah-kisah yang sudah masyhur, seorang Hanzalah yang rela meninggalakn kasur empuknya di malam pengantinnya demi untuk menyambut panggilan jihad, sebuah pengorbanan yang begitu hebat. Pun telah dikisahkan seorang budak hitam yang tetap kokoh berpegang teguh pada sendi aqidah, walaupun disiksa oleh majikannya namun kemanisan iman dan islam telah menyatu dalam setiap aliran darahnya hingga membuat dia tidak bergeming ketika beratnya batu besar, panasnya padang pasir, dan perihnya cambukan menghantam dirinya. Wahai saudaraku, tidakkah besar pengorbanan mereka? Air mata mereka meleleh membasahi pipi, tapi kalimat Allah tidak pernah lekang dari bibir dan hati mereka.
Engkau pastinya tahu sang syahidah pertama dalam sejarah penyebaran islam, bagaimana Sumayyah menjemput syahidnya dengan perlakuan yang sangat sadis, roh nya melayang meninggalkan jasad yang terbuyur kaku. Dia adalah muslimah tangguh yang pernah ada, tidakkah kau iri saudaraku? Sumayyah telah mengorbankan jiwanya untuk dien ini, lalu apa yang telah kita korbankan? Adakah hanya keluh kesah yang tersirat dalam tatapan sinis dan sumpah serapah yang telah mewarnai perjalanan kita? Kita terlalu lemah. Terlalu cengeng dalam menghadapi semua tantangan dakwah.
Dakwah bukan semua permainan, dakwah bukan sebuah label untuk menjadi orang hebat, dakwah adalah ruh juang, dakwah adalah sebuah ruh pembebasan, pencerahan. Dakwah adalah sebuah pilihan hidup, sehingga diri sudah siap dengan konsekwensi dari pilihan hidup itu. Diri harus siap dengan duri-duri yang telah menunggu di perjalanan. Hingga diri telah siap berkorban demi dakwah ini.
Tidakkah engkau rela menitikkan air mata, berpeluh dalam penat, atau terhempas karena hantaman yang sangat keras, tidakkah engkau rela semua itu engkau lakoni untuk sebuah senyum cerah di wajah ummat? Senyum bahagia karena merasakan keindahan islam, dan kemanisan iman. Sebagaimana yang telah dirasakan oleh manusia utama, seorang hanzalah, seorang Bilal, sayyidah Sumayyah, dan ribuan pejuang islam lainnya demi mengukir senyum di wajah kalian?
Dan pun jika kita tidak siap bersama dakwah maka itu juga adalah pilihan. Tapi tanpamu, tanpaku, tanpa siapapun dakwah ini akan tetap jalan di muka bumi ini. Bukan dakwah yang butuh kepada kita, tapi kitalah yang butuh kepada dakwah.


Read more...
Diposkan oleh Munawir Syam

Perbedaan Harakah Bukan Simbol Perpecahan

Perbedaan Harakah Bukan Simbol Perpecahan


Kepada mujahid benteng kebenaran
Selalu rindu akan lahir kejayaan
Kepada pewaris tahta yang gemilang
Menapak tegak menyongsong masa depan

Indonesia kini menjadi lahan subur bagi pergerakan Islam. Sehingga geliat dakwah dan keislaman terasa membahana di bumi pertiwi, dimana-mana selalu saja ada yang menyeru kepada kebenaran islam, seolah tidak ada ruang yang kosong. Alhamdulillah, geliat dakwah itu berasal dari aktivis pergerakan Islam yang aktif berdakwah, seolah tidak pernah letih dalam mengemban amanah yang memberatkan punggungnya, aktivis yang selalu berpeluh demi kerja-kerja besar, aktivis pergerakan yang selalu menghiasi bibirnya dengan kata hikmah. Subhanallah, semoga Allah membalas kalian dengan syurganya. Peluhmu, letihmu, waktumu yang tersita, perasaanmu, dan semua yang telah kalian korbankan demi pencerahan kepada ummat.

Saya melihat kalian dari luar fikrah dan harakah yang kuikuti, sehingga aku menuliskan semua ini bukan sebagai anggota dari suatu fikrah, melainkan seorang yang sedang menatap semua harakah dengan senyum menawan, menatap semua harakah sebagai singa Allah yang siap bertempur di medan laga, mempergunakan keahlian dan kemampuan mereka. Demi Allah, kutuliskan ini demi sebuah persatuan, bukan untuk mengkotak-kotakkan, apalagi menjelek-jelekkan pihak yang tidak sefikrah dengan saya. Saya menatap semua harakah sebagai pelangi yang begitu indah. Semua orang menyukainya, karena keindahan yang menyenangkan.

Saya pikir semua aktivis harakah islam paham dan hapal, sebuah surat cinta dari Allah yang mengatakan bahwa Allah mencintai orang yang berjuang dijalannya dengan shaff yang rapi. Ayyuhal asdiqaaiy! Renungkan ayat ini, karena tanpa shaf yang rapi maka kejayaan itu mustahil akan tercapai. Dan shaf yang dimaksud disini bukan shaf dalam satu harakah saja, namun shaf seluruh ummat Islam. Mustahil kejayaan itu akan tercapai jikalau kita sendiri bercerai berai. Karena shaf adalah kekuatan dan shaf adalah ruh keimanan.

Namun izinkan saya jujur dan sedikit mengeluh, senyum yang tadinya menawan karena melihat harakah islam yang begitu aktif dalam menjunjung panji-panji Islam kini harus harus sedikit memudar, membentuk senyum yang menyakitkan. Bagaimana tidak, seolah perbedaan harakah diantara kita manjadi hijab yang rentan dengan konflik. Konflik itu biasanya tergambar dari sikap dan tanggapan kita terhadap saudara dilintas harakah. Bukankah kita hapal diluar kepala, ayat Allah yang menegaskan bahwa semua orang beriman itu bersaudara. Apakah kita lupa dengan ayat sering kita baca berulang-ulang itu? Ayat yang semakin mengokohkan persaudaraan antara kaum muhajirin dan kaum anshar, hingga tidak ada lagi kata perbedaan status diantara mereka. Lalu ada apa dengan kita?

Subhanallah, kudapati dalam diri kalian wahai para aktivis pergerakan Islam, tanpa membedakan harakah kalian. Ruh semangat juang yang begitu tinggi, kita mempunyai cita yang sama. Kembalinya sebuah khilafah. Cita itu begitu agung dan telah menyatu dengan aliran darah dan desahan nafas kita. Sebuah impian yang sebentar lagi akan terwujud saudaraku, jangan hancurkan impian itu! Yah mungkin kita menatap impian yang masih dipuncak gunung itu di tempat yang berbeda, ada yang menatap impian itu dari sebelah kanan, kiri, depan, belakang. Dan mungkin kita menatap impian itu dalam keadaan yang berbeda pula, ada yang sedikit posisi miring, ada yang sementara duduk, berdiri, berjalan, berlari. Dan mungkin karena keadaan dan tempat kita dalam menatap impian indah itu hingga menjadikan kita berbeda, namun bukan berarti kita tidak bersatu kan saudaraku? Yang penting tidak ada diantara kita yang menatap impian itu dengan keadaan berpangku tangan.

Ada pepatah yang menyatakan, banyak jalan menuju roma. Mungkin itulah yang terjadi dengan kita, semua harakah mempunyai jalan tersendiri untuk mencapai tujuan. Yang jelasnya kompas yang digunakan sebagai penunjuk jalan adalah Al-qur’an dan sunnah. Sehingga tidak ada yang melenceng dan tersesat, saya yakin semua mempunyai pegangan yang kuat. Dan inilah yang membuat kita sering larut dalam konflik antar aktivis, karena kita masih saja memperdebatkan apa yang memang tidak bisa kita persatukan, karena memang dasar dalam memandang suatu masalah yang berbeda.

Harakah Islam saya gambarkan sebagai pelangi yang indah, semua mata akan betah memandangnya seraya bibirnya mengucap tasbih akan keindahan ciptaan Ilahi. Namun bagaimana jika pelangi itu menjadi tidak beraturan? Apakah masih akan indah kelihatan? Ataukah itu menjadi tanda kiamat? Ada hadits yang mengatakan bahwa perbedaan ummatku adalah berkah, walaupun disebutkan dalam beberapa buku bahwa hadits itu dhaif. Tapi setidaknya kita bisa mengambil pelajaran, karena isi dari kalimat tersebut tidak salah, bahkan sesuai dengan kondisi kita saat ini. Anggap perbedaan ini suatu berkah sehingga konflik bisa kita hilangkan. Lihatlah dalam satu kebun, pasti akan menambah keindahan jika ditumbuhi beraneka ragam bunga. Ada berwarna kuning, putih, merah, ungu. Dan datanglah lebah untuk menghisap sari bunga yang beraneka ragam itu, lebah tidak membedakan antara bunga kuning dan merah, semuanya diisap. Dan hasil dari sari bunga yang berbeda itu akan menjadi madu, madu yang begitu manis. Bukankah begitu saudaraku?

Sebenarnya jika kita ingin saling mengerti dan memahami, maka semuanya akan menjadi indah. Setiap harakah mempunyai keunikan tersendiri, khususnya kita di Indonesia. HTI lebih konsentrasi dalam pembentukan khilafah dengan sosialisai bahwa hanya islam lah solusi yang tepat bagi semua masalah, dan itu benar. Aktivis tarbiyah, PKS dan juga partai islam lainnya lebih memilih untuk ikut dalam pemerintah untuk melakukan perubahan bagi pemerintahan bangsa kita yang amburadul, dan itu benar. Jama’ah tabliq (JT) dengan kesadaran penuh mereka turun untuk berdakwah dan mengajak orang secara langsung untuk beribadah, JT konsentrasi dalam masalah ibadah, dan itu benar. Salafi yang lebih konsentrasi dalam pemurnian aqidah dan pemberantasan bid’ah, dan itu juga benar. Lalu apa yang salah dari kita? Mari kita gabungkan kerja-kerja kita, PKS dan partai-partai islam yang siap mendukung program yang baik dan berpihak pada kemaslahatan ummat. HTI yang melakukan penyadaran bahwa hanya Islamlah solusi, JT yang mengajak untuk ibadah, dan salafi untuk pemurnian aqidah. jika kerja-kerja ini kita satukan maka impian itu akan semakin cepat kita raih. Apalagi ditambah gerakan islam yang lain, yang semuanya ingin khilafah terwujud.

Saudaraku, lihatlah impian yang dipuncak gunung sana sedang melambaikan tangannya kepada kita, dia merindukan kita untuk segera sampai kesana, dan kita pun dengan segala upaya menghampirinya, sekarang kita sementara berlari ke arahnya, jangan sampai karena perbedaan latar belakang membuat kita saling menjatuhkan di tengah jalan, jika kita saling menjatuhkan maka siapakah yang akan sampai kesana? Impian itu semakin melambaikan tangannya, ayo saudaraku jangan sampai impian itu dihancurkan oleh ego kita semua. Saatnya kita saling memapah, menopang dan saling menguatkan. Jika ada saudaramu yang terjatuh mari kita papah dia, bukan malah menyumpahi dengan sumpah serapah. Ayyuha! Masih banyak musuh islam yang harus kita hadapi, musuh kita bukan lintas harakah, tapi musuh kita adalah mereka yang tidak ridho dengan Islam. Ayyuha!

Saudaraku, ada penyakit yang menjangkiti hati kita sebagai aktivis harakah islam. Ketika kita menganggap harakah kita paling sempurna dan harakah yang lain buruk, bahkan membid’ahkan dan menyesatkan harakah lain. Padahal tidak ada satupun harakah yang sempurna, semua ada celahnya dan kekurangannya. Namanya juga hanya buatan manusia, jadi tidak ada yang sempurna. Namun celah dan kekurangan itu bisa ditutupi dengan bersatunya semua harakah islam, kita saling melengkapi dan menutup kekurangan. Bukan malah saling membongkar kekurangan, tidak cukupkah Rasulullah menjadi panutan kita? Pernahkah beliau mengajari kita untuk menutupi aib dan kekurangan saudara sendiri? Rasulullah bersabda barang siapa yang menjaga aib saudaranya maka Allah akan menjaga aibnya di hari kiamat.

Mohon maaf jika tulisan ini terkesan menggurui, saya hanya menulis apa yang saya rasakan dalam gerakan dakwah islam. Saudaraku, aku mencintaimu karena Allah, seluruh aliran di darah ini dipenuhi kerinduan akan hadirnya kedamaian di bumi titipan Allah ini. Saudaraku, aku merindukan saat dihisab nanti amalan baik kita bercerita di hadapan Allah, tentang peluhmu…. Saudaraku, kutulis ini dengan perasaan yang mengharu biru dan kukirimkan do’a untuk persatuan kita…. Semoga kalian semua diberkahi oleh Allah dan menguatkan pancang kakimu di harakah manapun kamu berpijak.

Munawir Syam, syaamilah@yahoo.com
Read more...

Islam Yang Syumul

Oleh : Ust. Anis Matta - Suara Hidayatullah

Jaminan keabadian syariat Islam ternyata harus dibayar dengan harga yang tidak semurah yang kita bayangkan. Jaminan keabadian ini harus dipertaruhkan sepanjang zaman; melawan berbagai tantangan dan fitnah yang tidak pernah selesai.

Pada 13 tahun pertama masa da'wah di Makkah, setidaknya ada empat tantangan dan fitnah yang dihadapi Rasulullah saw. Pertama, syubhat yang disebarkan para intelektual musyrikin Quraisy: sebagiannya terkait dengan pribadi sang Rasul pembawa risalah yang dituduh gila, atau penyair dan lainnya, sebagiannya lagi terkait dengan risalah itu sendiri, hingga suatu saat Allah menantang mereka untuk membuat Al-Qur'an yang lain.

Kedua, tawaran kompromi politik. Sebagiannya berupa posisi kepemimpinan bagi Rasulullah Saw yang harus dibayar dengan menghentikan da'wah, sebagiannya berupa kompromi dengan cara kaum musyrikin menyembah Allah setahun dan kaum Muslimin menyembah tuhan-tuhan kaum musyrikin setahun.

Ketiga, teror mental dan fisik, baik kepada Rasulullah saw secara pribadi maupun kepada sahabat-sahabat beliau yang berasal dari kabilah-kabilah yang lemah.

Keempat, embargo ekonomi yang berlangsung selama tiga tahun, dari tahun ketujuh hingga tahun kesepuluh kenabian. Begitu beratnya dampak embargo ini hingga banyak sahabat Rasulullah saw yang terpaksa memakan daun-daun pohon.

Pengulangan sejarah

Fitnah terhadap Islam dan syariatnya -sepanjang sejarah Islam- tampaknya mengalami pengulangan-pengulangan dengan struktur yang sama; pada mulanya ada syubhat yang bertujuan menggoyang kepercayaan kaum Muslimin, lalu ada tawaran kompromi politik yang bertujuan mengalihkan fokus penerapan syariat.

Jika kedua cara yang relatif demokratis ini gagal, maka fitnah itu dikembangkan dengan menggunakan bahasa kekerasan; teror mental dan fisik, yang dilanjutkan dengan menghabisi sumber daya perekonomian kaum Muslimin.

Lihatlah, misalnya, bagaimana berbagai macam syubhat tentang Islam bertebaran dalam dunia pemikiran Islam moderen, sejak zaman penjajahan hingga saat ini. Gerakan orientalisme telah bekerja keras menyebarkan syubhat-syubhat itu, sama kerasnya dengan kerja para imperialis mendidik para pemikir Muslim yang menelan mentah-mentah syubhat-syubhat tersebut.

Ambillah contoh gagasan tentang Islam ritual. Para orientalis menyebarkan gagasan ini untuk menutupi fakta tentang Islam sebagai sebuah sistem kehidupan. Pada suatu masa di awal abad ke-20, beberapa orang intelektual Mesir dikirim ke Perancis untuk belajar Islam. Salah seorang di antara mereka, Dr Ali Abdurraziq, kemudian kembali dengan membawa gagasan tentang "Islam tanpa politik".

Snouck Hourgronje datang ke Indonesia meneguhkan gagasan tersebut dan berhasil memperpanjang masa penjajahan Belanda di negeri ini. Sebabnya? Kaum Muslimin di sini tidak menganggap politik sebagai bagian dari Islam. Pada tahun 70-an awal, gagasan yang sama dengan latar belakang sosial politik yang berbeda muncul ke permukaan pemikiran Islam: "Islam Yes, Partai Islam No". Tokohnya kita semua sudah tahu. Sekarang, kalangan Islam Liberal membawa gagasan yang sama: jangan bawa syariat Islam dalam kehidupan bernegara. Tokohnya juga kita kenal.

Tapi syubhat-syubhat ini sudah relatif selesai, dan tidak lagi efektif mencegah laju kebangkitan Islam. Para penggagas kebangkitan Islam sejak Afghani, Abduh, Rasyid Ridha, Hasan Al-Banna, Sayyid Quthub, hingga Iqbal, Al-Maududi, Al-Nadawi dan Natsir di luar jazirah Arab, telah berhasil membangun landasan pemikiran Islam yang kokoh. Sejak tahun 70-an hingga saat ini laju kebangkitan Islam telah berkembang dari sekedar gerakan pemikiran menjadi gerakan sosial politik yang merata di seluruh di dunia Islam.

Lihatlah apa yang terjadi di Aljazair, Yaman, Iran, Turki, Indonesia, Pakistan, Sudan dan lainnya. Kekerasan telah menjadi bahasa umum-yang digunakan berbagai rezim boneka -di mana Islam direpresentasikan dalam panggung politik. Di Aljazair misalnya, FIS yang pernah memenangkan pemilu di awal 90-an, sekarang tinggal sebuah nama yang 'pernah ada' dalam sejarah politik negeri itu.

Tapi itu bahkan tidak hanya dilakukan oleh rezim penguasa lokal. Kekuatan imperialis global di bawah dominasi Barat, khususnya Amerika Serikat, terlibat sangat jauh mendukung rezim penguasa lokal. Begitu sebuah harakah Islam berhasil menegara dan berkuasa, rezim baru itu akan segera diisolasi.
Lihatlah Sudan. Begitu kudeta putih yang dipimpin Umar Al-Basyir berhasil menguasai Sudan tahun 1987, dan mulai mencanangkan penerapan syariat Islam, negeri Muslim di perbatasan Afrika-Arab itu segera masuk dalam lingkaran setan embargo ekonomi hingga saat ini.

Banjir tak lagi terbendung

Tapi seperti banjir, gelombang kembali kepada Islam, baik di jalur sosial budaya maupun di jalur ekonomi politik, tak lagi dapat dibendung. Seperti syubhat-syubhat pemikiran para orientalis bersama para muridnya di negeri-negeri Islam yang tidak lagi efektif sejak dekade 70-an, maka cara-cara kekerasan dalam bentuk teror mental dan fisik atau embargo ekonomi, juga tidak lagi efektif sejak dekade 90-an. Runtuhnya Uni Soviet awal dekade 90-an bukan hanya mengangkat AS ke puncak dominasi dunia, tapi juga menyisakan berkah bagi dunia Islam; yakni runtuhnya tembok tirani yang memberi jalan bagi proses demokratisasi di negeri-negeri Muslim yang didominasi para tiran.

Lebih dari itu, peta aliansi strategis antar berbagai kekuatan global berubah pada basisnya; dari orientasi ideologi ke orientasi kepentingan ekonomi. Karena potensi-potensi yang dimilikinya, baik potensi sumber daya alam, maupun potensi pasarnya, maka perkembangan ini akan memberikan posisi tawar yang baik bagi dunia Islam.

Fakta ini melahirkan fakta lain; dunia kita makin sulit dikontrol oleh hanya satu tangan. Kita belajar satu hal dari rentetan peristiwa pemboman WTC dan Pentagon 11 September 2001, hingga demonstrasi 10 juta orang di seluruh dunia 14 Februari 2003 lalu menentang rencana serangan AS-Inggris ke Irak; bahwa Amerika tak lagi seberwibawa dulu, bahwa Amerika bukan lagi mitos yang menakutkan, bahwa Amerika bukan lagi simbol peradaban tapi simbol kebiadaban.

Retaknya koalisi Barat, runtuhnya pamor Amerika, dan rusaknya citra peradaban mereka menjadi kebiadaban, akan mempercepat laju trend "kembali ke Islam"; karena di sini kita -dan dunia- menemukan identitas yang solid untuk melakukan perlawanan.

Faktor-faktor eksternal ini, khususnya bila Amerika benar-benar menyerang Irak, akan mendorong peningkatan solidaritas dunia Islam bersama bagian dunia lain yang anti-Amerika, memperlihatkan secara kasat mata kebiadaban Amerika serta meningkatkan semangat anti-Amerika di seluruh dunia.

Secara internal, kondisi-kondisi global ini akan mempercepat proses pematangan gerakan-gerakan Islam, dan mengantar mereka ke jalur cepat menjadi negara. Kenapa? Karena rezim-rezim pro Amerika di dunia Islam akan kehilangan legitimasi di mata rakyat, dan pada waktu yang sama, menjadikan kekuatan Islam sebagai alternatif perlawanan. Untuk tahapan ini, kenyataan ini menguntungkan gerakan Islam.

Jalan masuk menuju kemenangan besar Islam telah dimulai dari sini; dari sebuah dunia yang semakin tidak terkontrol, dari runtuhnya kepemimpinan Amerika atas dunia, dari kekacauan global dunia tanpa kutub, dari keserakahan tak terbatas yang melahirkan pertarungan atas sumber-sumber daya ekonomi. Lebih dari itu semua; ada janji Allah untuk mengabadikan dan memenangkan agama ini.

Jangan hiraukan agenda kecil

Dalam kerangka itulah kaum Muslimin, khususnya para pemimpin dan pemikirnya, harus memfokuskan perhatiannya pada agenda-agenda besarnya; membangun aliansi besar ummat Islam, membangun pondasi sosial-politik bagi kehidupan kenegaraan yang kokoh, peningkatan kemampuan mobilisasi massa, pengembangan kapasitas pengendalian politik melalui berbagai jalur parlementer-ekstraparlementer, jalur lambat pemilu atau jalur cepat people power, pematangan agenda-agenda aksi di lapangan dan lainnya.

Kita harus terbiasa bekerja dalam agenda-agenda besar itu, dan terbiasa juga mengabaikan agenda-agenda kecil seperti menjawab ocehan kalangan Islam Liberal, membela diri dari tuduhan sebagai teroris, dan agenda-agenda sejenis ini yang kontra-produktif

Pernyataan Dewan Pimpinan Pusat HASMI ( DPP HASMI )

Written By joyojuwoto on Selasa, 01 Juni 2010 | 23.27


بسم الله الرحمن الر حيم
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

 Pernyataan Dewan Pimpinan Pusat HASMI ( DPP HASMI )
Menyikapi Serangan Brutal Zionist Israel Terhadap Kapal Penumpang Kemanusiaan Gaza.

Saudara-saudara kami kaum muslimin, baru saja kita menyaksikan satu lagi kebiadapan yang di pertontonkan oleh negara zionist israel. Pasukan israel bersenjata lengkap telah mmbunuh saudara-saudara kita aktifis kemanusiaan yg hendak menolong saudara kita penduduk muslim gaza, mereka terbantai di atas kapal kemanusiaan Marvi Marmara pada hari Senin 31 Mei 2010, yang diantaranya adalah saudara-saudara kita dari indonesia.
Menyikapi kejadian memprihatinkan tersebut maka kami DPP HASMI merasa perlu menyampaikan pernyataan-pernyataan sebagai berikut:

1.      DPP HASMI mengutuk dan mengecam keras serangan biadab tersebut dan menanggap serangan tersebut adalah serangan terhadap kaum muslim lainnya juga serangan terhadap nilai kemanuisaan yang berlaku di dunia ini.

2.      DPP HASMI meminta kepada Pemerintah RI untuk tidak membuka pintu peluang hubungan apapun dengan zionist israel dan dalam bentuk apapun.

3.      DPP HASMI juga mengajak seluruh kaum muslimin di indonesia untuk mewaspadai segala bentuk penjajahan pemikiran atau penjajahan terselubung israel, yang makarnya bisa kita rasakan di Indonesia ini.

4.      DPP HASMi mengajak kepada kaum muslimin, marilah kita senantiasa mendoakan saudara-saudara kita kaum muslimin di Gaza palestina, mudah-mudahan Alloh subhanahu wa ta'ala memberikan ketabahan dan kemenangan dalam perjuangan mulia ini, sehingga mereka dapat terbebas dari cengkeraman dan penjajahan zionist israel terkutuk. Sedangkan untuk saudara-saudara kita yang tertembak oleh zionist israel mudah-mudahan di terima amal ibadahnya oleh Alloh subhanahu wa ta'ala dan dijadikan amal syahadah yang mulia.

Demikianlah pernyataan kami semoga Alloh subhanahu wa ta'ala senantiasa merahmati dan melindungi kaum muslimin di mana saja berada

Bogor, 31 Mei 2010

atas nama,
DPP HASMI

Muhammad Sarbini MHI

Semboyan kita bukanlah BHINNEKA TUNGGAL IKA,

Written By joyojuwoto on Minggu, 23 Mei 2010 | 23.05

Semboyan kita bukanlah BHINNEKA TUNGGAL IKA,
tetapi LAA ILAAHA ILLALLAH MUHAMMADURRASULULLAH
Dasar negara kita seharusnya bukanlah PANCASILA DAN UUD 1945, tetapi AL QURAN DAN AS SUNNAH
Kita tidak mengenal NASIONALISME DAN PATRIOTISME,
yang kita kenal adalah JIHAD FI SABILILLAAH DAN UKHUWAH ISLAMIYAH
DEMOKRASI adalah BERHALA yang sesat dan menyesatkan
HAM adalah SAMPAH PEMIKIRAN
PLURALISME adalah KEKAFIRAN DAN KESESATAN
SEKULERISME adalah AJARAN IBLIS DAN SETAN
SAUDARA-SAUDARA KITA adalah umat islam di belahan bumi manapun mereka berada
MUSUH-MUSUH KITA adalah orang-orang yg memusuhi ALLAH dan RASULNYA meski mereka adalah keluarga dan kerabat kita
Ridha Allah adalah tujuan kita
Rasulullah adalah panutan kita
Al Quran dan As sunnah adalah undang-undang kita

Sungguh mengherankan jika kita melihat dialog-dialog di TV dimana mereka begitu mengagung-agungkan undang-undang buatan manusia, sehingga jika ada perbuatan yg bertentangan dgn undang-undang mereka langsung bilang : INKONSTITUSIONAL. Tapi jika ada perbuatan yang bertentangan dengan Al quran dan sunnah mereka diam seribu bahasa dan sama sekali gak protes, bahkan mungkin bilang "agama adalah urusan individu, negara gak perlu campur tangan". Tentu kita gak tau apa isi hati mereka, masihkah tersisa iman di hati mereka? ataukah sebenarnya mereka orang-orang munafik dan kafir? Dalamnya laut dapat diduga, dalamnya hati siapa yg tau�
Orang-orang sesat itu begitu mensakralkan PANCASILA dan KONSTITUSI, tapi menginjak-injak ALQURAN dan SUNNAH. Mereka membuang ajaran islam kebelakang punggung mereka dan menjunjung tinggi sampah-sampah pemikiran yang bertentangan dengan ajaran islam. Lantas apa gunanya mengaku beragama islam ?
Jangan-jangan agama mereka bukan agama ISLAM, tetapi agama DEMOKRASI. Dan kitab suci mereka bukan ALQURAN tetapi KONSTITUSI,
Paling tidak, mereka termasuk MUJAHIRUN, yaitu orang yg berbuat dosa secara terang-terangan, bahkan menyebarluaskan kesesatan/dosa mereka secara terang-terangan ke tengah masyarakat. Mereka adalah corong-corong ajaran iblis dan setan. Mereka adalah setan dalam jasad manusia. dengan mulutnya mereka mengajak manusia ke neraka. Padahal agar dosa mudah diampuni seharusnya perbuatan dosa itu harus disembunyikan dan jgn sampai ketahuan manusia, sebagai wujud malu kepada Allah, tetapi para penyeru sekulerisme dan pluralisme itu malah menyerukan kesesatan mereka melalui berbagai media massa tanpa malu-malu lagi
"Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat, kemudian mereka tiada memikulnya [tidak mengamalkan isinya] adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal. Amatlah buruknya perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah itu. Dan Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang zalim." (QS Al Jumu'ah : 62)
Orang-orang yg mendukung sekulerisme dan menolak penerapan syariat islam adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab tebal, karena meskipun mereka mengetahuii Al quran dan as sunnah tetapi mereka enggan menerapkannya di negara ini dan malah mencampakkan syariat islam serta mendukung sekulerisme.

"APAKAH HUKUM JAHILIYAH YANG MEREKA KEHENDAKI, DAN (HUKUM) SIAPAKAH YANG LEBIH BAIK DARI (HUKUM) ALLAH BAGI ORANG-ORANG YANG YAKIN ?"
[QS. AL-MAAIDAH 5 : 50]

Home

Written By joyojuwoto on Sabtu, 15 Mei 2010 | 16.40

Blog Pemula

Ibu Bumi Bapa angkasa

Written By joyojuwoto on Kamis, 13 Mei 2010 | 21.29

Hawa panas kang dirasakake dening manungsa ing wektu iki jalaran saka patrape manungsa dhewe.

Akeh para manungsa kang lali marang kawicaksanane leluhur anggone memetri bumi lan saisine. Akeh piwulang sinandhi para leluhur biyen kanggo nglestarekake bumi supaya mberkahi tumprape panguripane manungsa.

Salah sawijine piwulang kang sinandhi mau contone aja ngrusak tetanduran utawa wit-witan kang wis ngrembuyung. Para leluhur paring wewaler menawa ngrusak wit kang gedhe bakal kuwalat amarga ing kono ana sing mbaureksa. Mula sapa wae wedi ngrusak wit kang gedhe ngrembuyung. Sejatine, kang sinandhi ing wewaler mau ora liya supaya wit-witan bisa kanggo ngeyupi, bisa uga kanggo njaga rumembese banyu ana ing njero lemah, kejaba yen diupakara kanthi peni nambahi asrine lingkungane. Ewadene ing wektu saiki akeh perangane menungsa kang seneng ngrusak wit-witan kalebu ing tlatah alas lan ing pagunungan.

Sejatine wewaler mau dudu thakayul.

Kamangka sing jenenge tetanduran kuwi ngasilake oksigen kang dibutuhake manungsa. Menawa akeh kang rusak alas lan tetandurane tegese sangsaya suda oksigen kang diasilake. Kahanan kaya mangkono ndadekake panase hawa ing jagad wektu saiki.

Semono uga yen mirsani kaya apa tata wewangunane omah ing Jawa saiki wis adoh saka wewangunan kang diripta dening para leluhur biyen. Wewangunan omah joglo, limasan lan sapanunggalane iku ora liya amarga para leluhur biyen tansah nyawiji karo alam lingkungane. Menawa katitipriksa perangan kang katutup lan tinarbuka isih akeh perangane omah kang tinarbuka.

Beda karo jaman saiki tata wewangunane omah akeh kang katutup tinimbang kang tinarbuka. Mula saiki akeh omah kang nganggo AC kang sejatine ana zat kang menawa terus-terusan anggone nggunakake njalari hawa ing njaba omah dadi panas yaitu kang sinebut freon.

Ing liya bab yaiku gegayutan karo tata pengalohe sawah ing wektu saiki wis ora miturut apa kang ing biyen sinebut pranata mangsa. Kapan wae arep tandur saiki wis gampang amarga nganggo cara-cara kang jinurung dening rabuk kimia dudu rabuk kandhang. Amarga saka kuwi akeh pabrik-pabrik kang ngasilake rabuk kimia kang nuwuhake regede hawa iki utawa kang saiki tembunge polusi.

Apa maneh ing jaman saiki akeh para manungsa kang nggunakake barang-barang kang diwadhahi kaleng contone wewangen, obat nyamuk semprot lan sapanunggalane kang migunakake zat-zat kimia kang ngrusak lapisan Ozon. Kamangka para leluhur biyen nggunakake wewangen kanthi cara alam contone ratus, oyot loro setu, lan pirang-pirang jenis kembang ginawe cem-ceman. Kanggo ngusir nyamuk ing jaman biyen cukup nganggo onthel (kembang kluwih sing garing).

Mula ing jaman saiki kejaba akeh alas sing rusak ketambahan akeh pabrik-pabrik mau ndadekake mundhake regede hawa ing jagad iki amarga gas-gas sing nyebabake apa kang disebut efek rumah kaca. Akeh zat-zat kang ngrusak lapisan hawa kang nuwuhake sunare srengenge luwih akeh sing ditampa bumi ora satimbang karo cahya kang dipantulake. Kuwi kabeh sing nyebabake tambah panase bumi.

Pungkasane, ing kene bisa disebutake menawa kawicaksanane para leluhur anggone memetri bumi nganggo lelandhesan pangrasa ora pangrusak. Buktine, para leluhur ing biyen ing tanah Jawa yen ngarani angkasa kuwi bapa yen bumi kuwi ibu. Ing pangrasane menawa jagad agung iki kudu dikurmati kaya yen nyebut ing pandonga yaitu Bapa Angkasa, Ibu Bumi. Menawa angkasane dirusak lan bumine dirusak tegese orang kurmat marang bapa lan ibune.


::Dening: Tundjung W Sutirto, Dosen Jurusan Sejarah FSSR UNS::

Waras dengan Memiara Ketakutan

RASA wedi tidaklah lantas membuat kehidupan jadi terhenti. Justru inilah prasyarat bagi setiap orang untuk sanggup menggapai cita-cita menjadi Jawa sepenuhnya: tahu bagaimana membawa diri, sehat, dan matang. Tanpa rasa takut, orang akan mudah terjerembab menjadi pribadi yang mentah, ngisin-isini, bahkan ora waras.

Terhadap sumber wedi, orang bisa merasa dikepung dan ditawan, namun bisa pula sebaliknya, mengambil jarak dan melawan. Namun pada kesempatan lain, tak jarang orang justru berkoalisi dengan sumber wedi dengan menciptakan relasi-relasi yang penuh makna, kreatif, dan apresiatif dengan sumber yang semula dianggap menakutkan.

Kondisi tersebut sebenarnya telah dipetakan oleh Peursen (1980) dalam tahap-tahap kebudayaan. Tahap pertama disebut tahap mitis. Pada tahap ini, sumber wedi itu ditempatkan sebagai kekuatan-kekuatan ”misterius” yang tidak dikenal, yang belum mampu dicirikannya. Manusia hanya memasrahkan diri terhadap daya-daya misterius itu.

Ciri manusia yang berada dalam tahap mitis juga dengan sangat baik digambarkan oleh Peursen, yakni ”belum merupakan seorang individu (subjek) yang bulat, ia dilanda oleh gambaran-gambaran dan perasaan-perasaan ajaib, seolah-olah ia diresapi oleh roh-roh dan daya-daya dari luar”.

Tahap berikutnya adalah tahap ontologis dan tahap fungsional. Dalam tahap ontologis, manusia telah mengenal dirinya. Dia juga telah mulai mengambil jarak terhadap daya-daya ”misterius” itu. Artinya, ia mulai melepaskan diri darinya dan mencoba memahaminya dengan menggunakan akal. Manusia mulai berusaha memahami siapa dirinya dan alam lingkungan. Berbagai fenomena irasional, yang pada tahap mitis dianggap ”misterius”, satu per satu disingkap, dicirikan, ditelanjangi, sehingga sisi-sisi yang banyak tersembunyi itu tersingkap dan terpapar secara kasat mata.

Tahap mitis dapat dianggap sebuah ekstrem, yakni manusia tertawan oleh sumber ketakutan. Tahap ontologis bisa juga dianggap sebagai ekstrem lain, karena manusia berhadapan dengan yang dianggap sebagai sumber ketakutan, menantangnya, dan mengambil jarak darinya.

Tahap fungsional boleh dianggap sebagai koreksi terhadap kedua ekstrem itu. Di sini, manusia mulai mengulurkan tangannya dan menciptakan relasi-relasi yang penuh makna, kreatif, dan apresiatif dengan entitas yang dianggap menjadi sumber wedi.

Namun sebagaimana dinyatakan Peursen, ketiga tahapan kebudayaan itu tidak berada dalam gerak linear. Yang satu tidak berada sebelum atau sesudah tahap yang lain. Artinya, tahap mitis tidak mendahului tahap ontologis, dan tahap fungsional tidak muncul sesudah tahap ontologis. Pada zaman dan waktu yang sama, manusia dari pelbagai peradaban dan budaya boleh jadi sedang mengalami tahap-tahap yang berbeda-beda. Bahkan dalam sebuah suku bangsa, tidak tertutup kemungkinan bervariasinya sikap dalam menghadapi sumber ketakutan.

Lambaran Urmat

Hampir setengah abad yang lewat, Hildred Geertz (1961) mencatat wedi sebagai sikap penting dalam penanaman sikap anak-anak Jawa. Ini merupakan bagian dari laporan komprehensif sang antropolog tentang keluarga Jawa pada kurun waktu ketika laporan itu ditulis.

Dikemukakan bahwa melalui pendidikan dalam keluarga pada orang Jawa sejak kecil, ada tiga perasaan yang menjadi lambaran sika hormat, yakni wedi, isin, dan sungkan. Wedi berarti takut, baik sebagai reaksi teradap ancaman fisik maupun sebagai rasa takut terhadap akibat kurang enak atas suatu tindakan.

Pertama-tama anak belajar untuk merasa wedi terhadap orang yang harus dihormati. Anak dipuji apabila bersikap wedi terhadap orang yang lebih tua dan terhadap orang asing. Bentuk-bentuk pertama kelakuan halus dan sopan ditanamkan pada anak dengan menyindir pada segala macam bahaya mengerikan dari pihak-pihak asing dan kekuatan-kekuatan di luar keluarga yang akan mengancamnya.

Secara kasat mata, beberapa orang yang memiliki bentuk fisik tertentu atau yang memiliki pekerjaan tertentu, misalnya dhukun sunat atau dhukun/calak, kerap dijadikan sebagai sosok untuk meden-medeni (menakut-nakuti) anak. ”Awas, mengko disunati” adalah pernyataan yang sering terdengar untuk membuat anak wedi atau agar tak bertindak seperti yang tidak dikehendaki ”pengancam”.

Tak hanya dengan objek yang kasat mata-mata, upaya meden-medeni juga dilakukan dengan merujuk pada sosok yang tidak kasat mata. Dari sinilah kemudian lahir keyakinan akan keberadaanya makhluk alus yang bersifat jahat dan menakutkan yang biasa digolongkan sebagai memedi. Banyaknya jenis dan nama memedi dan masih seringnya hal tersebut disebut di tengah pergaulan masyarakat menunjukkan bahwa kehadirannya (sekalipun sebatas ”wacana”?) tetap fungsional.

Seiring dengan dinamika mental masyarakat yang cenderung makin rasional, keyakinan terhadap hal-hal yang semula medeni, apalagi yang tergolong memedi, rupa-rupanya kian bergeser. Lebih-lebih bersamaan dengan itu, semangat egalitarian dan kesetaraan kian mengemuka yang berimplikasi pada berkurangnya rasa wedi tersebut lantaran menganggap semua sama.

Justru di situlah kemudian muncul persoalan lain. Memang persoalan takut dan ketakutan mesti ditempatkan secara proporsional. Namun akan cemaslah orang tua jika mengetahui anak yang didiknya ternyata telah berkembang menjadi anak yang ora ana sing diwedeni.

Memang rasa wedi itu ibarat pisau hati bermata dua. Di satu sisi, rasa wedi kadang perlu diperangi dengan rasa kendel sehingga seseorang tidak takut untuk bertindak. Namun di sisi lain, rasa wedi sangat diperlukan, tidak hanya agar ora menjadi lebih berhati-hati tetapi juga agar bisa mengukur diri, agar bisa pula nandhing sarira.

Pengenyahan rasa wedi secara tidak proporsional tak lebih dari upaya para pengadu jangkrik yang berupaya ngileni jangkrik aduannya agar tak takut bertarung meskipun sebenarnya pada ukuran ”wajar” sudah tidak sanggup lagi. Atau bahkan menjanturnya agar puyeng sehingga berani membabi buta. Dan, tentu bisa ditebak ujungnya: fatal!

Ya, ketakutan memang bisa menghambat, namun di satu sisi rasa wedi juga sekaligus merupakan salah satu motivasi terkuat bagi orang Jawa untuk menyesuaikan kelakuannya dengan norma-norma masyarakat.

Legawa

TEMBUNG “legawa” iku tembung saka basa Jawa sing saiki uga dianggo ing basa Indonesia. Legawa iku tegese lila utawa eklas. Ing basa Jawa ana tembung “lila legawa’”. Legawa iku ana gandhenge karo tembung “lega”. Sing dadi pitakon yaiku gandhenge tembung “lega” karo “legawa”: saka ngendi tambahan “-wa” ing tembung “legawa” iku?

Ing pawayangan ana paraga sing jenenge “Rama Legawa”. Tembung “legawa” jenege paraga mau asale saka tembung “Raghawa”. Kayadene “Pandhawa” utawa “Korawa”, tembung “Raghawa” iku tegese darah utawa turune “Raghu”. Sajake dumadine tembung “legawa” iku ya saka jeneng mau, dene maknane ya padha karo tembung “lega” utawa “lila”. Tembung lega utawa legawa iku nggambarake sikap batin kang eklas, lila, ora kagubel ing rasa owel utawa gela.

Almarhumah penyair Jawa moderen, Iesmaniasita, nyipta gurit sing irah-irahane “Apa kowe wis lega?” Ing gurit mau Iesmaniasita takon marang penyair-penyair sak angkatane, “apa kowe wis lega yen mung sesindhenan lagu warisan?” Pancen, ing kasusastraan Jawa akeh reriptan kang adiluhung. Akeh pengarang lan pujangga kondhang, wiwit Empu Sendah, Empu Panuluh nganti Ranggawarsita. Ananging pengarang saiki apa ya wis marem yen mung ngopeni warisane para leluhur, ora bisa nyipta reriptan dhewe? Tembung “lega” kena ditegesi “nrima”, yaiku nrima menawa wis bisa “sesindhenan lagu warisan” ora nduwe greget nyipta lagu dhewe.

Tembung “legawa” iku tegese nampa kanthi ati longgar. Yen kalah ya bisa nampa kekalahane, yen menang ya ora banget-banget olehe mbungahi. Caleg sing ora kapilih dadi anggota legislatif ora perlu banget-banget olehe nggrantes utawa pepes atine. Ananging tumrape sing ora nglakoni pancen ya gampang bae kandha mangkono, tumrape sing nglakoni, saya-saya sing wis ngetoke dhuwit sing ora sethithik, jagad iki pancen ya banjur peteng temenan.

Sakabehing tumindak iku ana wohe dhewe-dhewe. Ora sakabehing panjangkah utawa pepinginan iku bisa katurutan, luwih-luwih menawa ora dikantheni ikhtiar lan dipetung kanthi premati. Senajan kayadene wis janji “siap menang, siap kalah”, nanging yen kalah kaya-kaya kok ya ra siap. Dadi, ngudi legawaning ati pancen ora gampang.

Manungsa iku pancen kudu bisa legawa, awit manungsa iku mung titah sing ora uwal saka papesthen. Manungsa iku bisa ketaman lara, ketaman susah, lan ketaman nasib sing ora becik, dadi tuwa lan ora luput ing pati. Yen wis tekan kalamangsane, manungsa bisane mung pasrah marang Sing Gawe Urip. Tanpa nyelaki perlune ikhtiar, pepesthen kang tumunduk ing uripe manungsa kudu ditampa kanthi lila legawaning ati. KGPAA Mangkunegara IV ing Serat Wedhatama ing pupuh Pocung paring dhawuh menawa ana sifat telu sing perlu diugemi, yaiku lila lamun kelangan, trima yen ketaman, legawa lan pasrah marang Sing Gawe Urip.

Lila lamun

kelangan nora gegetun

trima yen ketawan

sak serik sameng dumadi

tri lagawa nalangsa srah ing bathara

Oleh :
Dening Soedjarwo
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. KHOIRUNNAS ANFA'UHUM LINNAS - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger